MBI

logo-mbi

Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) merupakan wadah Induk pembantu utama Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dalam membina umat Buddha yang berwawasan Buddhayana. Berbicara tentang wawasan ini, kita tidak melirik kembali putra pertama Indonesia yang masuk menjadi anggota sanggha monastik setelah jatuhnya kedatuan Majapahit dan Sriwijaya, beliau ada Alm. Biksu Ashin Jinarakkhita, seorang pluralis dan inklusif.

Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) didirikan oleh Biku Ashin Jinarakkhita pada hari Asadha 2499 BE tanggal 4 Juli 1955 di Semarang, tepatnya di Wihara Buddha Gaya, Watugong, Ungaran, Jawa Tengah, dengan nama Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI). PUUI mula-mula diubah menjadi MUABI (Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia), yang kemudian disempurnakan menjadi Majelis Upasaka Pandita Agama Buddha Indonesia, dan pada tanggal 9 Mei 1979 nama tersebut diubah lagi menjadi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).

Stupa Mandala Borobudur yang “dibangkitkan” mengandung ajaran Hinayana, Mahayana, dan Tantrayana, tiga mazhab yang secara bertahap berkembang di bumi nusantara pada masa lalu yang sekaligus mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika, wawasan intersekte (intersektarian) dan kerukunan yang harmonis dalam keragaman

Mereka yang bebas dari keterikatan pada budaya maupun sekte (dalam hal ini bukan hanya orang Barat) ternyata lebih mampu melihat keutuhan ajaran Buddha. Sesungguhnya sekalipun ada perkembangan Buddhayana dari penerapannya yang di awal menuju penerapannya yang sekarang, semangat Buddhayana di Indonesia adalah satu dan tidak pernah berubah, yakni: Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda – yana – namun tetap dalam satu kesatuan – kendaraan Buddha – Buddhayana.