Memberi Bimbingan (Shining Light)

August 13, 2014 at 10:37 am

Ada sebuah latihan di Plum Village yang bernama Memberi Bimbingan (Shining light atau Offering Guidance), latihan ini berasal dari tradisi monastik yang melakukan wassa selama 3 bulan, di hari terakhir wassa ada Upacara Pavarana. Sebelum upacara penutupan wassa, maka setiap anggota monastik memberikan “bimbingan” kepada junior berkaitan dengan latihan-latihan mereka, dengan demikian bisa membantu junior untuk maju dalam praktiknya.

Dalam ajaran Buddha ada “Mata Buddha” atau “Mata Kebijaksanaan”, dan juga “Mata Dharma” yang bisa kita temukan dalam berbagai sutra, Plum Village menciptakan istilah baru yaitu “Mata Sanggha”. “Bimbingan” yang di maksud itu adalah kumpulan dari mata seluruh sanggha yang mana bisa membantu kita melihat lebih jelas dan dalam daripada satu mata saja.

Praktik Memberi Bimbingan ini sudah mengalami modifikasi oleh sanggha Plum Village. Versi tradisional, seorang junior akan datang dan memohon senior untuk memberikan masukan (bimbingan) tentang latihan-latihan yang telah dilakukan, apakah itu kekurangan, kekeliruan yang diobservasi oleh senior sepanjang 3 bulan wassa. Namun di Plum Village kita memohon semua anggota monastik dalam satu hamlet untuk memberikan bimbingannya. Mereka tidak hanya menyebutkan kekurangan dari seseroang, namun kita m mulai dari hal-hal apa yang sudah dilakukan mereka dengan sukses. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan saran konkrit kepada orang tersebut agar bisa terus maju, memperbanyak kualitas baik dan perlahan-lahan merubah sifat-sifat yang kurang baik. Diakhir sesi itu, setiap orang mendapat sepucuk surat sebagai suatu cara untuk memberi semangat kepada masing-masing orang untuk berlatih lebih giat dan ingat akan hal-hal yang wajib kita lakukan sepanjang tahun.

Sebelum memulai sesi Memberi Bimbingan, kita membacakan renungan di bawah ini agar bisa didengarkan bersama-sama oleh semua anggota, renungan ini membantu kita agar bisa tetap menjaga atmosfir saling menghormati dan mengasihi.

Oh Buddha Yang mulia dan semua guru-guru sesepuh:
Hari ini kami akan memberikan bimbingan kepada adik maupun kakak dalam komunitas. Kami tahu bahwa kami semua merupakan bagian dari tubuh sanggha, kami merupakan tulang dan daging dari sebuah sanggha. Mengetahui ini dengan jelas, kami hendaknya menyadari bahwa memberi bimbingan kepada satu anggota sanggha berarti kami memberikan bimbingan kepada diri kami sendiri. Kami bertekad untuk melaksanakan sesi ini dengan sepenuh hati, cinta kasih, dan pengertian. Kami menggunakan hati dan niat baik untuk menyampaikan apa pun agar bisa mendekati kebenaran sesungguhnya tentang dia yang akan menerima bimbingan, kemudian kami juga akan memberikan usul konkrit agar dia bisa terus menempuh perjalanan transformasi. Kami tidak akan membiarkan perasaan marah dan persepsi keliru mencemari pandangan kami. Kami akan berbicara dari hati kami yang paling dalam, kami akan berbicara sesuai dengan praktik kasih sayang.
Kami menyadari bahwa memberi bimbingan kepada satu anggota sanggha itu berarti kami memberikan bimbingan kepada diri sendiri, sehingga proses memberi bimbingan ini akan memberi manfaat kepada setiap orang. Kami memohon Buddha dan semua guru-guru sesepuh melindungi dan mendukung kami agar sesi memberi bimbingan ini bisa lancar dan sukses.

Anggota sanggha seharusnya tidak dengan sengaja menggunakan kesempatan ini untuk mengkritik atau menghakimi orang lain. Sungguh penting sekali bahwa apa pun yang kita sampaikan kepada orang tersebut datang dari hati kita yang paling dalam dan kasih sayang. Jika ada rasa marah atau kekesalan yang muncul, maka sebaiknya jangan berbicara terlebih dahulu. Kita memberikan bimbingan kepada seseorang karena kita ingin dia maju dalam latihan.

Dalam proses memberikan bimbingan, kita mengombinasikan pendapat, ide, dan pemahaman. Pada saat mendengar sharing dari anggota lain; bisa saja terjadi perubahan pendapat dalam diri kita. Mendengar sharing dari orang lain bisa membantu kita melepaskan pandangan keliru kita terhadap orang tersebut. Pendapat kita juga bisa dipengaruhi oleh pendapat orang lain ketika kita mendengar. Ini adalah manfaat dari memberi bimbingan. Sembari mendengar kita juga sembari mengetahui lebih banyak lagi tentang orang tersebut, kadang-kadang ada sesuatu yang berkaitan dengan diri kita sendiri secara langsung, dengan demikian kita bisa mengerti orang lain dan diri sendiri lebih baik lagi. Kadang-kadang ketika kita mendengar seseorang memberi bimbingan kepada orang lain berupa sifat-sifat kurang baik, ternyata sifat-sifat itu juga ada dalam diri kita sendiri. Melalui proses ini kita punya kesempatan untuk merenung lebih dalam tentang diri sendiri dan kemudian bertekad untuk berubah.

Seni memberi bimbingan bisa diaplikasikan dalam konteks non sektarian juga. Ketika kita duduk bersama dan mengombinasikan ide dan pemahaman kita, kita akan tiba pada pemahaman kebersamaan.

Sumber:
Joyfully Together: The Art of Building a Harmonious Community [hal 85-86]