Memperbarui Sutra Hati

October 27, 2014 at 3:24 am

Thay-Teaching-whiteboard-chinesePada Tanggal 11 September 2014, Bhante Thich Nhat Hnah telah menyelesaikan penerjemahan ulang satu dari Sutra sangat penting dalam Mahayana yakni Sutra Hati ke dalam Bahasa Inggris.

Sutra Hati vesi Inggris ini diterjemahkan dari Bahasa Vietnam yang mana versi Vietnman ini juga hasil penerjemahan baru oleh Bhante setelah sekitar 3 minggu di European Institute of Applied Buddhism di Jerman.

Hasil penerjemahan versi Inggris yang baru ini akan dimasukkan dalam buku Pendarasan Plum Village, dan tentu saja akan dimasukkan dalam buku pendarasan versi baru nanti. Sutra Hati versi baru ini sedang dalam proses penataan irama dan lagu oleh monastik di Plum Village, semoga bisa segera dipublikasikan nanti.

 

Sutra Hati:
Kearifan Menuju ke Pantai Seberang

Kala Bodhisattwa Awalokiteshwara
merenungkan secara mendalam tentang
Kearifan menuju ke pantai seberang
seketika itu menyadari pancaskandha juga kosong adanya
berkat penyadaran ini,
Ia berhasil mengatasi duka

Dengarlah, Sariputra
wujud adalah kekosongan,
dan kekosongan adalah wujud.
Wujud tiada beda dengan kekosongan
Kekosongan tiada beda dengan wujud
Demikian pula dengan perasaan, persepsi, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran
(Genta)

Dengarlah, Sariputra,
Semua dharma bercirikan kekosongan
hakikat sejatinya adalah
tidak lahir juga tidak mati
tidak ada juga tidak tak ada
tidak kotor juga tidak murni
Tidak berkurang juga tidak bertambah.

Oleh sebab itu dalam kekosongan,
badan jasmani, perasaan, persepsi
bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran;
semua itu bukanlah entitas tunggal terpisah

Delapan belas ranah fenomena
yang terdiri dari enam organ indra,
enam objek indra, dan enam kesadaran
juga bukanlah entitas tunggal terpisah

kemunculan dan hilang lenyapnya
Dua belas mata rantai interdependen
juga bukanlah entitas tunggal terpisah

duka, sebab duka,
akhir duka, dan jalan mengakhiri duka,
kebijaksanaan dan pencapaian
juga bukanlah entitas tunggal terpisah
(Genta)

Siapapun yang mampu melihat semua ini
dia sudah tidak perlu lagi mencapai apa pun

Para bodhisattwa yang mempraktikkan
Kearifan menuju ke pantai seberang,
tidak menemukan rintangan lagi dalam pikiran mereka
karena sudah tiada rintangan pikiran
mereka mengatasi ketakutan
membebaskan diri mereka dari persepsi keliru
merealisasi nirwana tertinggi

Semua Buddha masa lalu, sekarang, dan masa depan
berkat Kearifan menuju ke pantai seberang ini,
mereka mencapai pencerahan otentik dan sempurna
(Genta)

Oleh karena itu, Sariputra
perlu diketahui bahwa
Kearifan menuju ke pantai seberang
merupakan mantra teragung,
mantra sakti mandraguna,
mantra tertinggi
mantra yang tiada taranya
kearifan sejati yang memiliki kekuatan
melenyapkan semua jenis duka
Oleh karena itu marilah kita mendaraskan
mantra Kearifan menuju ke pantai seberang

Gate gate paragate paramsagate bodhi swaha
Gate gate paragate paramsagate bodhi swaha
Gate gate paragate paramsagate bodhi swaha

 
 

Alasan Thich Nhat Hanh menerjemahkan ulang Sutra Hati

Keluarga terkasih,

Alasan Thay (Bhante Thich Nhat Hanh akrab di sapa Thay, Bahasa Vietnam yang berarti Bhante) menerjemahkan ulang Sutra Hati adalah karena para sesepuh belum memaksimalkan penggunaan bahasa secara utuh dalam menuliskannya. Oleh karena itu hampir 2000 tahun banyak terjadi pemahaman keliru.

Thay ingin menceritakan ulang dua buah kisah: yang pertama adalah kisah seorang sramanera yang pergi bertemu dengan guru zen, dan kisah kedua berkaitan dengan seorang biksu yang datang untuk bertanya kepada Master Tue Trung.

Kisah Sramanera Kecil
Dalam kisah pertama, seorang guru zen bertanya kepada sramanera: “Apa yang engkau pahami tentang Sutra Hati?”

Sramanera itu beranjali dan membalas:
“Saya telah mengerti bahwa pancaskandha itu kosong. Tidak ada mata, tidak ada telinga, tidak ada hidung, tidak ada lidah, tidak ada badan jasmani juga pikiran; tiada bentuk, tiada suara, tiada bau, tiada rasa, tiada perasaan, tiada objek pikiran; enam kesadaran indra juga tidak eksis, enam belas fenomena juga tidak eksis, dua belas rantai saling memunculkan juga tidak eksis, bahkan kearifan dan pencapaian juga tidak eksis.”

Guru bertanya, “Apakah Anda percaya apa yang tertera dalam Sutra Hati?”
Sramanera menjawab, “Ya, saya percaya sepenuhnya.”

“Coba kamu ke sini,” ucap Guru seraya memanggil sramanera tersebut. Ketika sramanera mendekat, Ia menggunakan jempol dan jari telunjuknya untuk mencubit hidung sramanera itu.
Sramanera kontan meronta kesakitan, “Guru! Mengapa engkau mencubit hidungku?!” Guru menatap sramanera itu dan berkata “Barusan kamu bilang hidung itu tidak eksis, kalau memang benar hidung itu tidak eksis lalu apa yang sakit?”

Kisah Master Tue Trung
Master Tue Trung merupakan seorang guru zen perumah tangga, beliau pernah menjadi mentor bagi raja muda Tran Nhan Tong pada abad ke-13 di Vietnam. Suatu hari, seorang biksu datang berkunjung untuk bertanya tentang Sutra Hati.

“Yang mulia, Apa arti dari kalimat ‘wujud adalah kekosongan, kekosongan adalah wujud’? Apa makna sesungguhnya?”
Pada awalnya Master Tue Trung hanya terdiam saja, dan kemudian dia bertanya kepada biksu itu, “Apakah Anda punya badan jasmani?”
“Iya, punya.”
“Lantas, mengapa engkau bilang tidak punya badan jasmani?”

Master Tue Trung melanjutkan, “Coba bayangkan angkasa, apakah angkasa juga berwujud?”
“Tidak, angkasa tidak berwujud.”
“Lantas mengapa engkau bilang kekosongan adalah wujud?”

Biksu itu berdiri, membungkuk hormat, dan pergi. Tapi Master Tue Trung segera memanggil dia kembali dan melantunkan gatha berikut ini:

Wujud adalah kekosongan, kekosongan adalah wujud,
Merupakan suatu cara upaya kausalya sementara yang digunakan oleh para Buddha tiga masa
Kekosongan bukanlah wujud, dan wujud bukanlah kekosongan
Hakikat kekosongan dan wujud selalu jernih dan terang, tidak terjebak pada ada maupun tiada

Kisah Master Tue Trung tampaknya memunculkan kontradiski Sutra Hati dan menantang konsep “Wujud adalah kekosongan dan kekosongan adalah wujud”, konsep yang dianggap pakem dalam literatur Prajñāpāramitā.

Thay merasa bahwa Master Tue Trung terlalu berlebihan dalam kisah itu. Master Tue Trung tidak mampu melihat bahwa kesalahan bukan terletak pada konsep ‘wujud adalah kekosongan’, justru kesalahannya terletak pada struktur kalimatnya, ‘Oleh karena itu dalam kekosongan tiada wujud’. Menurut Thay, struktur syair dalam Sutra Hati dari awal hingga baris yang berbunyi ‘tiada kelahiran, tiada kematian, tiada noda, tiada murni, tiada penambahan, tiada pengurangan’ sudah bagus adanya. Thay menyayangkan bahwa para sesepuh yang menyalin Sutra Hati tidak mengikutsertakan istilah ‘tiada ada dan tiada tak ada’ yang seharusnya diletakkan sebelum ‘tiada kelahiran, tiada kematian’, karena dua istilah itu bisa membantu kita melampaui gagasan ada dan tiada, dan kita tidak lagi terjebak pada ide seperti ‘tiada mata, tiada telinga, tiada hidung, tiada lidah, dan seterusnya’. Hidung sramanera itu masih sakit hingga hari ini, pahamkah Anda?

Perkaranya mulai dari kalimat: “Dengarlah Shariputra, karena dalam kekosongan, tiada wujud, tiada perasaan, tiada persepsi, tiada bentuk-bentuk mental, dan tiada kesadaran indra (sanskerta: TasmācŚāriputraśūnyatayāmnarūpamnavedanānasamjñānasamskārānavijñānam). Sungguh aneh! Sebelumnya dinyatakan bahwa kekosongan adalah wujud, dan wujud adalah kekosongan, tapi sekarang malahan pernyataan berlawanan: Tiada kekosongan, tiada badan jasmani. Bagian dalam Sutra Hati ini bisa membawa mudarat kekeliruan pemahaman. Bagian ini menyatakan bahwa semua fenomena itu bukan bagian dari kategori ‘ada’, dan dengan demikian menyatakan bahwa semua fenomena termasuk bagian dari ‘tiada’ (tiada wujud, tiada perasaan, tiada persepsi, tiada bentuk-bentuk mental, tiada kesadaran indra). Sementara hakikat dari semua fenomena merupakan tiada juga tiada tak ada, tiada lahir dan tiada mati. Pandangan ‘ada’ merupakan pandangan ekstrem dan pandangan ‘tiada’ juga merupakan pandangan ekstrem. Hanya karena kalimat yang tidak tepat inilah hidung sramanera itu masih sakit hingga kini.

Gatha tersohor yang ditulis oleh Patriak ke-6 Hui Neng, yang beliau sampaikan kepada Patriak ke-5 Hung Ren, juga menyatakan demikian dan Hui Neng juga terjebak pada pandangan keliru:

Sesungguhnya, tiada pohon bodhi
Cermin jernih juga tidak pernah eksis
Tiada sesuatu yang pernah eksis dari waktu tanpa awal
Lantas bagaimana mungkin ada debu bisa menempel padanya?

Iringan awan bergerak menutupi lubang gua
Menyebabkan banyak burung tidak bisa pulang ke rumah

Pengertian mendalam dari prajñāpāramitā merupakan pengertian yang sangat ampuh, membantu kita mengatasi dua sisi yang saling bertolak belakang seperti: lahir dan mati, ada dan tiada, noda dan suci, bertambah dan berkurang, subjek dan objek, dan sebagainya,. Pengertian itu juga membantu kita bersentuhan dengan hakikat sejatinya tiada lahir atau tiada mati, tiada ada dan tiada tak ada, dan sebagainya, yang merupakan hakikat sejati dari semua fenomena. Keadaan bebas ini disebut keadaan dingin, damai, tiada ketakutan; yang bisa kita alami dalam kehidupan ini juga, di dalam badan jasmanimu, dan juga dalam pancaskandhamu, yakni Nirwana. Sebagaimana burung terbang ke angkasa, para rusa berlari bebas di hutan, demikian pula para bijaksana bersemayam dalam keadaan Nirwana. Kalimat ini sungguh indah, bisa ditemukan dalam bab Nirwana dalam Dharmapada versi mandarin.

Pengertian mendalam dari prajñāpāramitā merupakan kebenaran tertinggi, menembus batas semua kebenaran konvensional. Pengertian ini merupakan visi tertinggi dari Buddha. Apa pun yang tercantum dalam Tripitaka, bahkan koleksi prajñāpāramitā yang sangat menakjubkan sekalipun, apabila isinya bertolak belakang dengan konsep itu, maka itu sama saja masih terjebak dalam kebenaran konvensional. Sungguh malangnya, ternyata ada paragraf cukup panjang dalam Sutra Hati saat ini yang juga mengandung kontradiksi tersebut.

Oleh karena alasan inilah Thay telah mengubah penggunaan istilah dalam versi terjemahan baru Sutra Hati (sebelumnya berbahasa Sanskerta maupun Mandarin) yang diterjemahkan oleh Xuan Zang. Thay menerjemahkannya sebagai berikut: ‘Oleh karena itu dalam kekosongan, badan jasmani, perasaan, persepsi, dan bentuk-bentuk mental, dan kesadaran indra tidak bisa berdiri sendirian.’ Semua fenomena merupakan produk dari saling ketergantungan: Inilah poin utama dari ajaran prajñāpāramitā. ‘Bahkan pengertian mendalam dan pencapaian juga tidak bisa terwujud sendirian.’ Thay juga menambahkan istilah ‘tiada ada (kurang ‘ada’ ya?) dan tiada tak ada’ dalam teks terjemahan baru. Tiada & tiada tak ada merupakan visi mendalam Buddha yang dinyatakan dalam Sutra Kātyāyana ketika Buddha menjelaskan tentang pandangan tepat. Istilah tiada dan tiada tak ada akan membantu generasi mendatang agar tidak menderita lagi akibat cubitan di hidung.

Sutra Hati ditujukan untuk membantu para Sarvāstivādin melepaskan pandangan tiada aku dan tiada dharma. Esensi paling dalam dari Prājñāpāramitā adalah kekosongan ‘aku’ (ātmaśūnyatā) dan kekosongan dharma (dharmanairātmya) dan bukan tiada dari aku dan dharma. Dalam Sutra Kātyāyana Buddha bersabda bahwa banyak diantara manusia terjebak dalam pandangan ada dan tiada. Oleh karena itulah kalimat ‘dalam kekosongan tiada wujud, perasaan…’ sudah jelas sekali masih terjebak dalam konsep ‘tiada’ dan tidak sesuai dengan kebenaran tertinggi. Kekosongan aku hanya berarti aku yang tidak bisa berdiri sendiri, bukan aku yang tidak eksis; sebagaimana balon yang bagian tengahnya kosong bukan berarti balon tidak eksis. Demikian juga kekosongan dharma: berarti bahwa fenomena tidak bisa berdiri sendiri dan bukan semua dharma tidak eksis. Contohnya bunga yang terbuat dari elemen non bunga. Bunga itu tidak bisa terwujud tanpa elemen lain, tapi itu bukan berarti bunga itu tidak ada.

Sutra Hati sedikit terlambat muncul yang mana pada saat itu ajaran Tantra telah menyebar. Sesepuh Buddhis mengompilasi Sutra Hati agar para penganut ajaran Tantra juga berlatih dan melafalkan Sutra Hati, oleh karena itulah Sutra Hati dibuat dalam bentuk Mantra. Ini juga termasuk upaya mahir. Thay menggunakan kalimat, ‘Kearifan yang menyeberangkan kita ke pantai seberang’, karena dalam mantra itu ada istilah pāragate yang berarti ‘pergi menuju pantai seberang, pantai kearifan.’

Pārāyana dan pāramitā sama-sama diterjemahkan menjadi ‘menyeberang ke pantai sana’. Dalam Sutta Nipāta ada bab yang berjudul Pārāyana yang juga diterjemahkan sebagai ‘menyeberang ke pantai sana’.

Para sahabat, saya harap Anda bisa menikmati berlatih Sutra Hati baru versi Inggris. Brother Phap Linh sedang menciptakan irama pendarasan yang baru. Sutra Hati versi baru ini akan diikutsertakan dalam Edisi baru Buku Pendarasan Plum Village. Kemarin, tanggal 21 Agustus, setelah selesai menerjemahkan Sutra Hati sekitar pukul 3 subuh, seberkas cahaya bulan menyinari kamar Thay.

Dengan kasih sayang dan kepercayaan,
Gurumu,

Insitut Ashoka, EIAB Waldbröl – Jerman